Selamat datang di blog pribadi Achmad Muchtar! Selamat membaca tulisan-tulisan saya. Jangan sungkan untuk memberi komentar. Salam :).

Apa yang Kamu Cari?

Minggu, 13 Desember 2015

Blog Baru!


achmadmuchtarjournal.wordpress.com

Kunjungi blog baru saya di achmadmuchtar13.wordpress.com! Blog ini berisi jurnal perjalanan kreatif saya yang saya mulai dari sejak diterima di Jurusan Sastra Indonesia FIB UGM.  Blog ini juga menampung beberapa karya saya, apa pun. Saya ingin terus menulis dan berkarya. Melalui blog ini, saya ingin menyuarakan bahwa sebagai pemuda Indonesia, berkarya adalah harga mati. Beberapa postingan mungkin terkesan narsis, tetapi saya harus mencatatnya di blog saya, sebab yang tercatat akan abadi. Mari terus berkarya!

Senin, 26 Oktober 2015

Astronot Terbuang yang Bertahan Hidup di Mars

(blogspot.com)
Judul film: The Martian
Negara: Amerika Serikat
Tahun: 2015
Sutradara: Ridley Scott
Pemain: Matt Damon

Durasi: 142 menit
Nilai: 4/5

Entah sampai kapan Hollywood akan terus memproduksi film adaptasi novel. Barangkali, mitos bahwa sineas Hollywood kehabisan ide itu merupakan sebuah kebenaran. Film The Martian (2015) diangkat dari sebuah novel berjudul sama. Kisahnya sebenarnya sederhana, yaitu bagaimana seorang ahli botani bertahan hidup di Mars demi menunggu bantuan datang. Uniknya, seseorang yang ditinggal di Mars--karena diduga mati saat terjadi badai besar di Mars--dapat bertahan hidup. Dengan persediaan kentang--yang bahkan ia tanam di Mars dan berhasil--ia makan sehari-hari. Ia berusaha untuk tetap hidup dan menyiarkan eksistensinya, berusaha mengirimkan sinyal ke Bumi, untuk mengabarkan ke orang NASA, bahwa ia masih hidup. Beberapa kejadian atau aktivitas terasa tidak masuk akal mengingat, Mark, orang yang bertahan hidup di Mars tersebut sendirian. Jika ia memang sendirian, berarti--selain sebagai ahli botani--Mark paham betul segala-apa yang ada di Habitat di Mars tersebut. Ia paham betul mesin-mesin, ilmu fisika, dan ilmu astronomi.

Minggu, 10 Mei 2015

Politik Penuh Intrik di Desa

(blogspot.com)
Judul buku: Di Kaki Bukit Cibalak
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Kisahnya sebenarnya tidak rumit-rumit amat. Seorang pemuda jujur yang karena kejujuran dan kebaikhatiannya membuat orang-orang yang berkuasa merasa dilangkahi atas perbuatan pemuda itu; mereka merasa harus menyingkirkan pemuda itu; termasuk menyingkirkan kisah cintanya dengan perawan desa. Dengan media koran yang terbit di kota seberang, pemuda itu berhasil menguak kejahatan yang terjadi di desa asalnya.

Tohari pertama-tama menggambarkan suasana Cibalak melalui diksi-diksi alam yang enak dibayangkan. Lalu, ia menggambarkan suasana sosial masyarakat di desa Tanggir. Selanjutnya drama dimulai, tentang kecurangan pemilihan lurah desa hingga polemik siapa yang berhak dan tidak berhak meminjam uang koperasi.

Jumat, 13 Februari 2015

Menghapus Lara


Cerpen Achmad Muchtar (Minggu Pagi No.45 Th.65, Minggu I Februari 2015)


Ilustrasi oleh Minggu Pagi

DELETED

Rabu, 28 Januari 2015

100 Film Terbaik yang Pernah Saya Tonton

(Posisi 1 sampai dengan 10 sengaja diacak dan diurutkan berdasarkan abjad.)

2001: A Space Odyssey (Stanley Kubrick, United Kingdom: 1968);
Bacheha-Ye Aseman a.k.a Children of Heaven (Majid Majidi, Iran: 1997);
Before Sunrise (Richard Linklater, United States: 1995);
Blowup a.k.a Blow-Up (Michelangelo Antonioni, United Kingdom: 1966);
Eternal Sunshine of the Spotless Mind (Michel Gondry, United States: 2004);
Le Fabuleux Destin d'Amelie Poulain a.k.a Amelie (Jean-Pierre Jeunet, France: 2001);
Oldeuboi a.k.a Oldboy (Park-Chan Wook, South Korea: 2003);
Pulp Fiction (Quentin Tarantino, United States: 1994);
Taxi Driver (Martin Scorsese, United States: 1976);
The Godfather (Francis Ford Coppola, United States: 1972);


Sabtu, 13 Desember 2014

Seseorang yang Tetap Kunanti

Cerpen Achmad Muchtar (Cempaka No. 37, 6—12 Desember 2014) 

Ilustrasi oleh Ibnu Thalhah (Dok. Cempaka)
DELETED

Minggu, 07 Desember 2014

Menghitung Waktu yang Sia-sia untuk Menunggu

Cerpen Achmad Muchtar (Suara Merdeka, 30 November 2014)

Ilustrasi oleh Farid SM (Dok. Suara Merdeka)

DELETED

Minggu, 30 November 2014

Suara-suara Pemuda Antikemapanan

Judul: Dengarlah Nyanyian Angin
Judul Asli: Kaze no Uta o Kike
Bahasa Asli: Jepang
Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah ke dalam bahasa Indonesia: Jonjon Johana
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan: II, Mei 2013
Dimensi: iv + 119 hlm; 13,5 x 20 cm
ISBN: 978-979-91-0562-2

Dengarlah Nyanyian Angin berterita tentang anak-anak muda dalam arus perbenturan nilai-nilai tradisional dan modern di Jepang tahun 1960--1970-an. Dalam kisah ini, si Aku, pejantan tangguh, tetapi terobsesi dengan seorang penulis Amerika yang mati bunuh diri. Kekasih Aku merupakan gadis manis dan bersahaja, tetapi tidak ragu-ragu menggugurkan janin dalam kandungannya, yang entah siapa ayahnya. Sahabat kental Aku, Nezumi, anak hartawan, tetapi muak dengan kekayaan dan menenggelamkan diri dalam alkohol. Mereka bertiga melewati delapan belas hari yang tak terlupakan pada suatu musim panas di sebuah kota kecil di tepi laut.

Saya sangat menyukai gaya bertutur Murakami. Ia bertutur apa adanya. Walaupun ia mengungkapkan hal-hal yang tidak biasa, bahkan mengerikan sekalipun, konsistensi tone-nya tetap terjaga. Ia seperti menulis tanpa beban. Tulisannya mengalir seirama, hampir tidak ada keberpihakan, atau datar-datar saja dalam menuliskan sesuatu. Banyak hal-hal yang diungkap oleh Murakami. Dunia remaja penuh gejolak, tetapi dituturkan dengan gaya bahasa yang tidak menye-menye. Serius dan naratif. Maksud saya, Murakami bertutur secara naratif, tentang peristiwa-peristiwa jasmani dan hanya sedikit peristiwa psikis. hal inilah yang membuat ceritanya mudah dinikmati hingga akhir.

Ada beberapa hal yang mengagetkan dalam bahasa hasil terjemahan ini, yaitu digunakannya kata-kata tidak baku, atau kata-kata khas remaja di beberapa dialognya. Hal tersebut memang tidak bisa dihindarkan mengingat para tokohnya merupakan remaja yang sedang dalam gejolak. Yang menarik adalah tokoh aku yang bertutur, seolah-oleh menuliskan pengakuan dosa. Ia mengaku telah meniduri tiga perempuan dan bercerita tentang kronologisnya. Murakami menuliskannya seolah-olah tidak ada tekanan sama sekali. Ia juga tidak menunjukkan keberpihakannya pada sesuatu yang baik atau buruk. Semuanya sama saja di matanya. Begitulah, novel pendek ini sangat menarik untuk dibaca.

Minggu, 16 November 2014

Menunggu dan Hal-hal tentang Kamu

Judul buku: Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu
Genre: prosa, cerita pendek, kumpulan cerpen
Penulis: Norman Erikson Pasaribu
Tebal: x + 176 halaman
Cetakan: I, April 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-0448-9 

Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu adalah buku kumpulan cerita pendek pertama karya Norman Erikson Pasaribu. Buku ini mendapat nominasi Khatulistiwa Literary Awards 2014 kategori prosa. Terdapat 20 cerpen yang sebagian pernah dimuat dalam surat kabar, majalah, dan buku antologi.

Norman adalah cerpenis yang melankolis, menceritakan tentang hal-hal yang melodramatis, kadang ia menceritakan hal-hal yang tak berguna, seperti menunggu. Ia lebih banyak menggunakan kata 'kamu' sebagai objek dan 'aku' sebagai subjek sekaligus pengamat objek. Ia bertutur lewat sudut pandang 'aku' dengan fokus cerita pada 'kamu'. Gaya penceritaan seperti ini memang bukan hal yang baru, tetapi di dalam kumpulan cerpen ini, hal tersebut mendominasi. Hal lain yang unik dari cerpen-cerpen dalam kumpulan ini adalah Norman secara sengaja menanggalkan tanda petik dua ("...") di sebagian besar dialognya. Ia menarasikan dialog, seperti membatin, tetapi itu dialog dalam cerita. Hal tersebut memang pernah juga dilakukan oleh Avianti Armand melalui cerpennya yang berjudul "Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian" yang terpilih sebagai Cerpen Kompas Pilihan 2009.

Kumpulan cerpen berjudul paling panjang sepenerbit Gramedia Pustaka Utama ini adalah karya penulis muda berbakat yang salah satu cerpen dalam buku ini terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Kompas yang masuk dalam kumpulan cerpen Laki-laki Pemanggul Goni: Cerpen Pilihan Kompas 2012. Kumpulan cerpen Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu ini menampilkan kisah-kisah hubungan manusia dalam cinta dari berbagai sisi yang tak terduga. Tak berlebihan jika Norman Erikson Pasaribu disebut akan memberi warna cerah pada masa depan sastra Indonesia.

Sabtu, 15 November 2014

#BBUGM2014 Sastra Bernada; Ketika Sastra dan Nada Bercinta

Suasana Konser Letto (Dok. @BulanBahasaUGM)
Bulan Bahasa Universitas Gadjah Mada 2014 menggelar acara malam konser amal bertajuk "Sastra Bernada; Ketika Sastra dan Nada Bercinta" yang merupakan salah satu dari rangkaian acara Bulan Bahasa UGM 2014. Acara ini digelar pada Sabtu, 15 November 2014 di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (Purna Budaya) UGM. Konser malam ini menampilkan band Letto dan beberapa band indie, yaitu Sri Plecit, Shoegijanto, Phi Band, Es Klasika Seniorita, dan Dharma.